(0331) 337877 cs.agromedis@gmail.com

AGROMEDIS – Tidak semua masyarakat mengetahui apa yang disebut stunting. Padahal, di Indonesia cukup banyak balita yang mengalami stunting. Dilansir dari laman P2PTM Kementerian Kesehatan (Kemenkes), stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Sehingga, mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia. Selain itu, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja. Melainkan juga terganggu perkembangan otaknya, yang akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas, dan kreativitas di usia-usia produktif. Setiap anak beresiko abnormal dalam proses perkembangannya. Seperti yang tercantum pada laman Fakultas Kedokteran Universitas Jember (FK Unej), proses anak untuk mengalami stunting apapun penyebabnya secara umum dapat berdampak pada beberapa kondisi.

Yaitu, perawakan pendek, kerusakan struktur dan gangguan fungsi otak, sehingga mengakibatkan gangguan tumbuh kembang jangka panjang, termasuk gangguan kognitif yang permanen. Dr. dr. Ahmad Suryawan, Sp.A(K), seperti dikutip dari laman FK Unej, pemberian terapi untuk stunting pada anak sekolah akan berdampak lebih rendah jika dibandingkan pencegahan di 2 tahun pertama kehidupan. Begitu juga angka literasi atau kemampuan baca tulis lebih rendah pada negara-negara yang cakupan ASI eksklusifnya rendah. Hal ini berdasarkan penelitian yang menyatakan anak stunting berat memiliki skor IQ lebih rendah secara signifikan dibanding anak stunting ringan-sedang (Webb, 2005).

Dan pada penelitian lain (Christopher, 2015) menyatakan peningkatan kemampuan kognitif anak usia 2 tahun kebawah adalah 0,24, sedangkan diatas 2 tahun adalah 0,09. Stunting menurun ke generasi berikutnya, artinya anak yang terlahir dari kedua orangtua stunting maka Ia akan stunting. Dan stunting permanen atu irreversible hingga umur 18 tahun. Oleh sebab itu, solusi terbaik dalam menghadapi stunting pada anak adalah dengan memberi suplemen nutrisi terbaik yaitu memberikan ASI hingga umur 2 tahun.

Tidak hanya itu, pemberian stimulasi terbaik juga penting, aktifitas fisik yang rutin, cegah dari penyakit dengan melakukan imunisasi lengkap, dan jaga hygiene sanitasi lingkungannya tetap bersih agar tidak mudah terkena penyakit infeksi, dan edukasi. Sehingga ketika dewasa tetap bisa optimal dan bermanfaat.***